Pagi itu, aku sangat senang karena akan diajak jalan-jalan oleh paman. Paman, aku dan ayah, kami menyusuri jalan belakang desa. Udara segar memenuhi paru-paru ku. Jalan yang tadinya lurus berubah menanjak, kemudian menurun. Tak henti aku memandang sekitar ku, hijau.
Sampai di rumah paman, ngeri ketika melihat di samping rumahnya, jurang. Aku tak berminat untuk melanjutkan melihat. Kumasuki rumah yang ukurannya sebesar rumah kakek, dindingnya sama, dari gedek orang jawa bilang. Lantainya juga masih tanah. Aku duduk dan menikmati teh yang dihidangkan, hangat. Rumah ini luas, namun tetap saja aku masih lebih betah di rumah kakek. Ayah dan paman berbincang santai, aku mulai bosan. Tiba-tiba paman berkata kalau akan mengajakku kembali jalan-jalan, tentu saja aku kembali bersemangat.
Jalan di depanku seperti tak berujung, langit biru dan awan putih itu jelas sekali terlihat. Di kejauhan terdapat dua gunung yang menjulang. Di kanan dan kiri ku ada hamparan hijau sawah dengan petani yang tak henti memamerkan senyum ramah.
Aku terdiam, takjub. Pemandangan ini sama persis seperti di buku gambar ku. Seakan buku gambar ku di sihir oleh ibu peri. Gambar itu sangat nyata.
Sampai di sebuah tempat, entah aku tak tau apa namanya. Bangunan dari batu di hadapanku ini semacam rumah batu. Di sekelilingnya hanya ada pepohonan tinggi, rindang nan hijau. Semacam hutan kecil, kau tau petualangan sherina? Meski tak sebagus hutan lembang, tempat ini cantik menurutku. Sinar mentari hanya bisa menelusup dari celah daunnya.
"Dilarang menyalakan kamera ya." ucap bapak penjaga itu dengan sopan
Aku memandang ke arah paman ku, seolah bertanya "kenapa?"
"Karna di sini banyak Monyet." jawabnya seakan tau apa yang sedang kupikirkan.
Aku memandang sekitar.
"Para monyet akan tertarik dengan benda berkilauan, dan itu berbahaya." sambung pak penjaga.
"Dimana monyetnya?" aku menarik ujung baju ayahku. Yang kudengar saat ini hanya dedaunan yang berisik.
"Biasanya ada, gak tau dari tadi koq gak ada yang muncul." tukas pak penjaga menjawab rasa penasaran ku.
Aku sedikit kecewa. Tapi tak apalah, paman kemudian kembali mengajak ku berkeliling. Rasanya aku berpikir "Akan menyenangkan jika suatu saat aku menyendiri di sini."